Puasa : Terapi Imunitas Keimanan
Oleh : M. Shidqi
Sebagai bulan istemewa, di mana Allah banyak
memberikan reward di bulan suci ini, segenap
umat muslim senantiasa menyambutnya dengan penuh suka cita. Meskipun selama satu bulan penuh, harus melaksanakan
ibadah puasa dengan menahan haus dan lapar seharian dan menjauhi segala
perbuatan yang terlarang, setiap muslim yang beriman akan melaksanakannya
dengan penuh keihklasan.
Tidak hanya,
karena puasa adalah kewajiban dan notabene merupakan salah satu rukun Islam, tetapi ibadah puasa, sejatinya merupakan treatment ilahiyah yang mengandung
banyak nilai-nilai kebaikan untuk membentuk mental spritual manusia agar dapat
mewujudkan tujuan luhur hidupnya
:
yaitu menjadi manusia yang
bertakwa.
Dengan menjalani treatment
puasa ini, manusia dilatih dan dididik untuk membentuk kepribadiannya menjadi
pribadi-pribadi berbudi luhur, pribadi yang bermentalkan ketakwaaan—sebagaimana menjadi tujuan puasa (Al-Baqarah 183). Dengan menjadi pribadi
yang berintegritas ahsanu
taqwim, maka ia akan mempunyai ketangguhan
moral yang kuat, punya kepedulian sosial yang tinggi terhadap lingkungan
hidupnya, selalu berempati pada nasib sesama, tak henti-henti menebarkan
kebaikan di tengah kehidupan,
menghindari perilaku-perilaku kotor yang tidak terpuji,
serta tidak terjatuh ke dalam
sikap yang mudah menghujat
terus-menerus akan kesalahan yang dilakukan
oleh orang lain, tetapi justru turut mendoakan
agar orang yang berbuat salah tersebut diampuni Allah dan segera kembali pada
jalan yang benar—tidak ada manusia yang
suci dan luput dari kesalahan, setiap manusia punya potensi yang sama untuk berbuat
salah.
Untuk itu, sebagai
prasyarat mendasar agar manusia dapat menjadi pribadi yang bermental takwa, maka ia
harus mempunyai sistem imunitas keimanan dan ketakwaan yang kuat dan selalu terawat
dengan baik. Karna
tanpa sistem imun keimanan yang kuat, maka mustahil manusia dapat mengendalikan
hawa nafsunya yang
notabene merupakan musuh terbesar dalam dirinya, dan selalu berpotensi
menggiring manusia terjerumus ke dalam perilaku-perilaku yang nista. Nah, agar manusia dapat
menjinakkan hawa nafsunya itu, maka oleh Allah diperintahkan melaksanakan treatment ibadah puasa. Karena
puasa, dapat menjadi sarana efektif untuk meng-update “anti virus"
keimanan, agar
punya daya tahan dari serangan “virus-virus” nafsu duniawi yang dapat mencemari dan
merusak kesucian hati nuraninya. Sebab, hanya di bawah terang iman, hati nurani
bisa selalu “on
the
track"
sebagai lentera kebenaran yang menerangi jalan hidup manusia. Dan, bulan Ramadhan, merupakan
momentum yang paling efektif untuk meng-scanning ulang “hardisk"
hati nurani agar kembali bersih dari segala macam virus-virus duniawi yang, disadari
atau tidak, dapat membuat manusia teralinasi dari dirinya sendiri dan terasa
jauh dari Tuhannya, sehingga mengalami banyak disorientasi dalam hidupnya.
Agar puasa betul-betul dapat menjadi
medium bagi pengendalian diri (self
control),
maka puasa harus dilaksanakan dengan semangat “imanan wahtisaban”.
Berpuasa dengan penuh percaya kepada Allah, bahwa Allah memerintahkan puasa
bukan untuk menyusahkan hambanya, tapi semata-mata demi kebaikan manusia itu
sendiri. Kewajiban puasa, adalah bentuk cinta Allah kepada hambanya agar dapat
hidup bahagia, selamat di dunia maupun di akhirat. Selanjutnya berpuasa dengan
penuh ihtisab, yaitu penuh
perhitungan pada diri sendiri (intropeksi). Bulan puasa merupakan wahana
untuk bermuhasabah,
melakukan evaluasi dan koreksi total akan kedirian kita sebagai manusia dalam menapaki
perjalanan hidup ini. Oleh karenanya, selama bulan puasa ini, sangat dianjurkan
untuk bertafakkur, iktikaf dengan berdiam diri di masjid dan berekontemplasi,
melakukan komunikasi intra personal (intra
personal communication),
untuk memaknai ulang siapa sesungguhnya diri kita ini, benarkah diri kita
adalah orang baik? Apa sesungguhnya tujuan hidup kita di dunia ini?
Iktikaf sebagai medium rekontemplasi
diri, semakin menemukan momentum
urgensinya di era media sosial hari ini, di mana hampir semua orang
mulai kehilangan
kemampuannya untuk melakukan komunikasi intra
personal. Karena lebih sibuk
berkomunikasi antar personal dan tenggelam dalam hiruk-pikuk komunikasi
“grup". Pudarnya kemampuan masyarakat untuk
melakukan komunikasi “ke
dalam",
membuat mereka tak bisa berfikir
jernih dan hati-hati dengan bercermin pada hati nurani, sehingga rentan sekali terserang “virus” fakenews
dan hoaks yang menyebar dan membanjiri medsos.Tak bisa membedakan mana yang bohong
dan mana yang jujur, mana yang palsu dan mana yang asli. Pada gilirannya, masyarakat mudah sekali
tersulut oleh olah api kebencian yang dihempuskan sedemikian rupa melalui
medsos, dan mendadak menjadi predator yang
siap menerkam siapa saja yang
berbeda dan tak sepaham dengannya.
Berpuasa dengan spirit imanan
wahtisaban
tersebut di atas, akan membuat kita mengalami capaian-capaian ruhaniah
berupa nilai-nilai kebaikan yg melimpah, dan di sisi lain dapat
terhindarkan dari praktek puasa sia-sia, yaitu puasa yang tak bernilai apa-apa
kecuali hanya sekedar haus dan lapar.
Karena sejatinya, pahala puasa tidak terletak
pada seberapa lapar dan haus yang dirasakan, tetapi pada kemampuan untuk
menahan nafs dari kejatuhan—wa nahan-nafsa ‘anil hawaa” (An Nazi'at ayat 40).
Karena pada
dasarnya, nafsulah yang
bisa membuat manusia terjatuh kedalam perilaku-perilaku kotor, nista dan
bergelimang dosa. Nafsu pulalah yang sangat menentukan selamat tidaknya hidup
manusia di dunia. Oleh
karenanya, puasa tak hanya sekedar aktivitas fisik semata, sekedar soal haus
dan lapar saja, tetapi yang paling penting menjadi aktivitas pengendalian psikis
dan mental, agar terjaga dari perbuatan dosa.
Penulis adalah Penghulu Muda pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Karangjati
Kementerian Agama (Kemenag) Kab. Ngawi.
Alamat :
Jl. Sutoyo No 187, Desa Beran Kec. Ngawi, Kab. Ngawi. Telp.: 081357533003.
Email : muh.Shidqi@gmail.com

2 komentar
mantab sudah pak, tata bahasanya menggunakan lughowi abad 21.
boleh juga belajar menulisnya pak.
Ya proses belajar...
Posting Komentar