Selamat Datang di Blog KUA Kec. Karangjati Kankemenag Kab. Ngawi.... Menuju KUA Bersih dan Melayani
Home » » Puasa : Terapi Imunitas Keimanan.

Puasa : Terapi Imunitas Keimanan.

Posted by KUA KEC. KARANGJATI on Senin, 05 Juni 2017



Puasa : Terapi Imunitas Keimanan


Oleh : M. Shidqi


Bulan Ramadhan yang telah ditahbiskan oleh Allah sebagai bulan istemewa, di mana di dalamnya memuat peristiwa-peristiwa maha penting, seperti adanya malam lailatul qadhar, yang digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, begitu pula turunnya kitab suci al-quran yang untuk pertama kalinya terjadi di bulan suci ini. Hanya di bulan ini, para setan oleh Allah ditarik dari peredaran, untuk memberikan kesempatan yang sebaik-baiknya kepada manusia agar bisa khusuk beribadah. Hanya di bulan ini pula, Allah melakukan “cuci gudang” pahala, dengan melipatgandakan pahala dari setiap ibadah yang dilakukan manusia. Dan, memberikan “diskon" besar-besaran berupa pengampunan dosa-dosa yang telah lalu, jika di bulan ini, kita mau berintropeksi diri memohonkan ampunan atas segala dosa yang pernah dilakukan. Karena itu, bulan Ramadhan disebut juga bulan maghfirah.
Sebagai bulan istemewa, di mana Allah banyak memberikan reward di bulan suci ini, segenap umat muslim senantiasa menyambutnya dengan penuh suka cita. Meskipun selama satu bulan penuh, harus melaksanakan ibadah puasa dengan menahan haus dan lapar seharian dan menjauhi segala perbuatan yang terlarang, setiap muslim yang beriman akan melaksanakannya dengan penuh keihklasan. Tidak hanya, karena puasa adalah  kewajiban dan notabene merupakan salah satu rukun Islam, tetapi ibadah puasa, sejatinya merupakan treatment ilahiyah yang mengandung banyak nilai-nilai kebaikan untuk membentuk mental spritual manusia agar dapat mewujudkan tujuan luhur hidupnya : yaitu menjadi manusia yang bertakwa.
Dengan menjalani treatment puasa ini, manusia dilatih dan dididik untuk membentuk kepribadiannya menjadi pribadi-pribadi berbudi luhur, pribadi yang bermentalkan ketakwaaan—sebagaimana menjadi tujuan puasa (Al-Baqarah 183). Dengan menjadi pribadi yang berintegritas ahsanu taqwim, maka ia akan mempunyai ketangguhan moral yang kuat, punya kepedulian sosial yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya, selalu berempati pada nasib sesama, tak henti-henti menebarkan kebaikan di tengah kehidupan, menghindari perilaku-perilaku kotor yang tidak terpuji, serta tidak terjatuh ke dalam sikap yang mudah menghujat terus-menerus akan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, tetapi justru turut mendoakan agar orang yang berbuat salah tersebut diampuni Allah dan segera kembali pada jalan yang benar­­tidak ada manusia yang suci dan luput dari kesalahan, setiap manusia punya potensi yang sama untuk berbuat salah.
Untuk itu, sebagai prasyarat mendasar agar manusia dapat menjadi pribadi yang bermental takwa, maka ia harus mempunyai sistem imunitas keimanan dan ketakwaan yang kuat dan selalu terawat dengan baik. Karna tanpa sistem imun keimanan yang kuat, maka mustahil manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya yang notabene merupakan musuh terbesar dalam dirinya, dan selalu berpotensi menggiring manusia terjerumus ke dalam perilaku-perilaku yang nista. Nah, agar manusia dapat menjinakkan hawa nafsunya itu, maka oleh Allah diperintahkan melaksanakan treatment ibadah puasa. Karena puasa, dapat menjadi sarana efektif untuk meng-update “anti virus" keimanan, agar punya daya tahan dari serangan virus-virus nafsu duniawi yang dapat mencemari dan merusak kesucian hati nuraninya. Sebab, hanya di bawah terang iman, hati nurani bisa selalu “on the track" sebagai lentera kebenaran yang menerangi jalan hidup manusia. Dan, bulan Ramadhan, merupakan momentum yang paling efektif untuk meng-scanning ulang “hardisk" hati nurani agar kembali bersih dari segala macam virus-virus duniawi yang, disadari atau tidak, dapat membuat manusia teralinasi dari dirinya sendiri dan terasa jauh dari Tuhannya, sehingga mengalami banyak disorientasi dalam hidupnya.
Agar puasa betul-betul dapat menjadi medium bagi pengendalian diri (self control), maka puasa harus dilaksanakan dengan semangat “imanan wahtisaban”. Berpuasa dengan penuh percaya kepada Allah, bahwa Allah memerintahkan puasa bukan untuk menyusahkan hambanya, tapi semata-mata demi kebaikan manusia itu sendiri. Kewajiban puasa, adalah bentuk cinta Allah kepada hambanya agar dapat hidup bahagia, selamat di dunia maupun di akhirat. Selanjutnya berpuasa dengan penuh ihtisab, yaitu penuh perhitungan pada diri sendiri (intropeksi). Bulan puasa merupakan wahana untuk bermuhasabah, melakukan evaluasi dan koreksi total akan kedirian kita sebagai manusia dalam menapaki perjalanan hidup ini. Oleh karenanya, selama bulan puasa ini, sangat dianjurkan untuk bertafakkur, iktikaf dengan berdiam diri di masjid dan berekontemplasi, melakukan komunikasi intra personal (intra personal communication), untuk memaknai ulang siapa sesungguhnya diri kita ini, benarkah diri kita adalah orang baik? Apa sesungguhnya tujuan hidup kita di dunia ini?
Iktikaf sebagai medium rekontemplasi diri, semakin menemukan  momentum urgensinya di era media sosial hari ini, di mana hampir semua orang mulai kehilangan kemampuannya untuk melakukan komunikasi intra personal. Karena lebih sibuk berkomunikasi antar personal dan tenggelam dalam hiruk-pikuk komunikasi “grup". Pudarnya kemampuan masyarakat untuk melakukan komunikasi “ke dalam", membuat mereka tak bisa berfikir jernih dan hati-hati dengan bercermin pada hati nurani, sehingga  rentan sekali terserang “virus” fakenews dan hoaks yang menyebar dan membanjiri medsos.Tak bisa membedakan mana yang bohong dan mana yang jujur, mana yang palsu dan mana yang asli. Pada gilirannya, masyarakat mudah sekali tersulut oleh olah api kebencian yang dihempuskan sedemikian rupa melalui medsos, dan mendadak menjadi predator yang siap menerkam siapa saja yang berbeda dan tak sepaham dengannya.

Berpuasa dengan spirit imanan wahtisaban tersebut di atas, akan membuat kita mengalami capaian-capaian ruhaniah berupa nilai-nilai kebaikan yg melimpah, dan di sisi lain dapat terhindarkan dari praktek puasa sia-sia, yaitu puasa yang tak bernilai apa-apa kecuali hanya sekedar haus dan lapar. Karena sejatinya, pahala puasa tidak terletak pada seberapa lapar dan haus yang dirasakan, tetapi pada kemampuan untuk menahan nafs dari kejatuhan—wa nahan-nafsa ‘anil hawaa” (An Nazi'at ayat 40). Karena pada dasarnya, nafsulah yang bisa membuat manusia terjatuh kedalam perilaku-perilaku kotor, nista dan bergelimang dosa. Nafsu pulalah yang sangat menentukan selamat tidaknya hidup manusia di dunia. Oleh karenanya, puasa tak hanya sekedar aktivitas fisik semata, sekedar soal haus dan lapar saja, tetapi yang paling penting menjadi aktivitas pengendalian psikis dan mental, agar terjaga dari perbuatan dosa.


Penulis adalah Penghulu Muda pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Karangjati Kementerian Agama (Kemenag) Kab. Ngawi.
Alamat : Jl. Sutoyo No 187, Desa Beran Kec. Ngawi, Kab. Ngawi. Telp.: 081357533003. Email : muh.Shidqi@gmail.com   

SHARE :
CB Blogger

2 komentar

kua bringin 12 Juni 2017 pukul 20.35

mantab sudah pak, tata bahasanya menggunakan lughowi abad 21.
boleh juga belajar menulisnya pak.

Unknown 13 Juni 2017 pukul 07.14

Ya proses belajar...

Posting Komentar

 
Copyright © 2015 KUA KEC. KARANGJATI. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger