Selamat Datang di Blog KUA Kec. Karangjati Kankemenag Kab. Ngawi.... Menuju KUA Bersih dan Melayani
Home » » UN, ABSURDITAS, UTOPIA DAN HARAPAN

UN, ABSURDITAS, UTOPIA DAN HARAPAN

Posted by KUA KEC. KARANGJATI on Kamis, 31 Maret 2016

Oleh: Taufikurrahman
Alumni PP. Annuqayah Latee, Sumenep
Tinggal di Sampang

Absurd. Mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan kegaduhan di sekitar pelaksanaan UN (Ujian Nasional). Histeria kelulusan yang dilakoni siswa dengan mencorat-caret seragam, konvoi kendaraan bermotor di jalan, serta isak-tangis, amuk massa dari mereka  yang tidak lulus ujian, berpadu dengan hidmatnya upacara Hardiknas. Pendidikan menjadi realitas yang sukar dipahami secara tautologis. Hibriditas makna berpendar tanpa kendali, di dalamnya.
Kalau hibriditas kebudayaan berlangsung dalam proses mimikri, sebua peristiwa peniruan sekaligus persilangan bentuk kebudayaan dengan makna otentiknya, maka dalam pendidikan, proses hibridasi makna berlangsung dalam bentuk skizofrenia. Putusnya mata rantai pertandaan, di mana bentuk (penanda) tidak dikaitkan dengan satu makna (petanda) dengan cara yang pasti, sehingga menimbulkan kesimpangsiuran makna. Peristiwa ini tidak hanya melibatkan bahasa tetapi juga psikis dari mereka yang terlibat di dalamnya.
Absurditas UN dapat dilihat minimal dalam tiga hal. Pertama, dari segi muatan yang diujikan terlalu bersifat saintis, sehingga tidak melibatkan seluruh potensi kecerdasan / multipile intelegences, anak sebagaimana dimanahkan UUD 1945 dan HAM. Kedua, dari sisi kebijakan bertentangan dengan semangat desntralisasi pendidikan dan otonomi guru dalam penilaian sekaligus mereduksinya menjadi desentralisasi keuangan. Ketiga, sebagai akibatnya, pendidikan, miskin ranah dan kehilangan spektrum maknya, terjebak  dalam mekanisme pasar, relasi konsumsi dan ketiadaan makna.

Refleksi Kebangsaan
Putusnya pertalian makna dalam pendidikan akan mengantarkan Indonesia sebagai ”negara gagal”, di masa depan. Padahal kontestasi politik, ekonomi dan budaya di antara negara-negara Asia, semakin tinggi volumenya. Malaysia, sebagai negara tetangga dan serumpun dengan Indonesia adalah negara yang paling ambisius untuk menjadi negara Asia yang diperhitungkan dunia di masa mendatang.
Ketertinggalan Indonesia dari Malaysia menampar harga diri bangsa. Bagaimana tidak, EDI (Education Development Index) Indonesia dalam Laporan EFA (Education For All) yang dilansir Global Monitoring Report pada tahun 2008, turun 5% dari sebelumnya dan berada di bawah Malaysia, negara, yang pernah belajar baca-tulis kepada Indonesia. Pangkal masalahnya sederhana, adalah rendahnya komitmen dari seluruh elemen bangsa terutama pemerintah dalam pelaksanaan pendidikan yang bermutu tinggi. Pelaksanaan program pemerintah terkait peningkatan mutu pendidikan terkesan asal-asalan dan rembuk pendidikan hanya “selesai” di atas kertas. Program  pendidikan seperti paket “kejar tayang”.
Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan berlangsung lama. Harus ada upaya kearah rekonstruksi total pendidikan. Tidak hanya pada wilayah konseptual, tetapi pada keseluruhan ranahnya sehingga pendidikan tidak kehilangan spektrum maknanya. Sulit  dibayangkan, seperti apa jadinya generasi Indonesia masa depan? Sebagai tempat bersemainya kebudayaan, a cradle of civilisation, pendidikan akan mengalami disfungsi dan disorientasi, yang berakibat pada gagalnya lembaga pendidikan mencetak manusia kreatif, dan berkarakter. Tragisnya sekolah akan berubah menjadi lembanga bimbingan belajar bersama dan pabrik ijasah (diploma mills).
Dalam suasan Hardiknas ini patutlah kita melakukan refleksi kebangsaan, menggugat absurditas dalam pendidikan, menyelaraskannya dengan UUD1945 dan HAM. Pendidikan tidaklah berada pada wilayah kosong, berorientasi pada dirinya sendiri. Pendidikan adalah bagian dari proses perjuangan bangsa ini untuk bangkit dari penjajahan dan ketidak-berdayaan, sehingga di masa depan Indonesia menjadi bangsa yang besar. Inilah semangat yang melatari lahinya Taman Siswa, cikal bakal dari pendidikan nasional kita. Semangat ini pulalah yang harus selalu di bawa serta oleh pelaku-pelaku pendidikan, terutama guru, dan dikomunikasikan terus-menerus, sehingga guru pantas menyandang gelar: Pejuang Tanpa Tanda Jasa.

Utopia Dan Harapan
Indonesia harus belajar ke China. China bersama Indonesia adalah dua negara yang diramalkan  Goldman Sachs akan menjadi dua di antara  negara the big-7. Dalam  Thesis Jim O’Neil (senior economist pada Goldman Sachs), Indonesia dan China akan menjadi negara yang penting dalam 20-40 tahun ke depan. Dalam publikasi Goldman Sachs tersebut, Indonesai pada tahun 2050 akan menjadi salah satu negara the Big-7, yaitu Brazil, Rusia, India, Cina, Amerika Serikat, Turki, dan Indonesia.
Sebagai sebuah bangsa, tentu, kita patut berbangga, bahwa kelak Indonesia diramalkan menjadi salah satu dari tujuh  negara yang disegani di dunia. Pertanyaannya adalah apakah Indonesia memiliki prasyarat yang cukup untuk mentransformasikan diri menjadi anggota the Big-7 pada 2050? Prasyarat apakah yang dibutuhkan? Ataukah cukup dengan mengandalkan kekayaan alam yang bersifat given, disediakan Tuhan?
Menjawab pertanyaan di atas, kita harus melihat Singapore dan Jepang, sebagai dua negara yang miskin sumber daya alam, kedua negara tersebut telah berhasil mentransformasi diri menjadi negara yang disegani di Asia, karena  nilai kompetitif sumber daya buatannya. Hal ini menegaskan bahwa kemajuan suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh pendidikannya.
Cina, seperti ditulis Li Lanqing (mantan PM Cina) dalam bukunya yang berjudulEducation for 13 Billion (2005), begitu ambisius mengintegrasikan berbagai teori pendidikan dengan nilai-nilai Cina  ke dalam reformasi pendidikannya. Salah satunya adalah pendidikan karakter.  Dalam reformasi pendidikan di Cina yang diinginkan oleh Deang Xiaoping pada tahun 1985, secara eksplisit dikatakan tentang pentingnya pendidikan karakter tersebut. Throughout the reform of the education system, it is imperative bear in mind that reform is for the fundamental purpose of turning every citizen into a man or woman of character and cultivating more construktif members of society (Decisions Of Reform Of The Education System, 1985). Hasilnya cukup mengejutkan dunia seperti yang kita saksikan sekarang.
Belajar dari ketiga negara tersebut, yang belum ditemukan di Indonesia adalah komitmennya. Merubah pendidikan sebagai instrumen pasar menjadi a cradle of civilisation, merubah praktik banking system education ke arah problem passing education, merubah praktik pembelajaran dari how to know ke how to understand, how to life together. Dengan cara demikian, guru dapat mengkomunikasikan universalitas makna di balik proses KBM, sehingga anak didik belajar dengan sadar dan pendidikan berorientasi pada pembangunan karakter.
Keseriusan untuk membangun intelektualitas dan karakter anak-anak muda melalui pendidikan inilah yang kelak akan dapat mengantarkan Indonesia dalam posisi tujuh besar negara di dunia seperti yang diramalkan Goldman Sachs.      


SHARE :
CB Blogger

Posting Komentar

 
Copyright © 2015 KUA KEC. KARANGJATI. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger